Selasa, 22 Oktober 2019

STUDI LITERATUR: PERANAN BAHASA INGGRIS UNTUK TUJUAN BISNIS DAN PEMASARAN Rian Sri Rahayu email: riansrahayu@gmail.com ABSTRAK Studi ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang cukup terhadap peranan Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah melalui studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu untuk menjawab peranan Bahasa Inggris, penggunaan Bahasa Inggris, dan pengaruh penggunaan Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran. Hasil dari studi ini menunjukkan peranan Bahasa Inggris lebih digunakan sebagai bahasa pengantar atau Lingua Franca yang perlu untuk diketahui dalam bisnis dan pemasaran. Penggunaan Bahasa Inggris paling banyak dilakukan di bidang pariwisata dan perhotelan. A. Pendahuluan Sebagai negara berkembang, Indonesia terus menerus meningkatkan kerja samanya dengan negara luar di berbagai bidang, khususnya di bidang perdagangan dan investasi untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Lemana, Rosa & Juwardi (2017) menjelaskan bahwa keadaan ekonomi dalam era globalisasi dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi semakin tajam, baik pasar domestik maupun pasar global. Keduanya lebih lanjut menyatakan bahwa daya beli konsumen semakin tebatas, konsumen semakin kritis dalam melakukan pembelian dan konsumen memiliki banyak alternatif untuk memenuhi kebutuhannya dan perusahaan dituntut untuk mampu merumuskan dan menciptakan suatu strategi bersaing yang tepat untuk dapat mengalahkan rivalnya dalam berkompetisi. B. Perumusan Masalah Mengacu pada latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka diperoleh perumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana peranan Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran? 2. Bagaimana peranan penggunaan Bahasa Inggris yang benar untuk tujuan bisnis dan pemasaran? 3. Bagaimana pengaruh Bahasa Inggris sebagai salah satu alat komunikasi terhadap tujuan bisnis dan pemasaran? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui bagaimana peranan Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran. 2. Untuk mengetahui bagaimana peranan penggunaan Bahasa Inggris yang benar untuk tujuan bisnis dan pemasaran. 3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Bahasa Inggris sebagai salah satu alat komunikasi terhadap tujuan bisnis dan pemasaran D. Landasan Teori Chrystal (1995) merangkum tentang pengembangan bahasa manusia, kemudian pengembangan bahasa oleh negara Great Britain hingga sampai pada pengembangan Bahasa Inggris menjadi Bahasa Inggris dunia yang digunakan untuk ilmu pengetahuan, bisnis, dan penggunaan secara umum sebagai sebuah “status tinggi” dalam bahasa. Kebanyakan orang di dunia mengenal bahasa Inggris sebagai bahasa global. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara global seperti yang dituliskan Crystal (1995) dalam bukunya yang mendapatkan pernyataan-pernyataan dari kebanyakan orang yang menyatakan bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa global karena Anda mendengar dari televisi politisi-politisi di seluruh dunia berbicara Bahasa Inggris, kemana pun Anda bepergian Anda. E. Metodologi Ada pun jenis Penelitian ini adalah studi literatur. Zed dalam penelitian Kartiningsih (2015) mengatakan bahwa metode studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelolah bahan penelitian. Kartiningsih menambahkan bahwa Studi kepustakaan dilakukan oleh setiap peneliti dengan tujuan utama yaitu mencari dasar pijakan/ fondasi utnuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka berpikir, dan menentukan dugaan sementara atau disebut juga dengan hipotesis penelitian. Sehingga para peneliti dapat mengelompokkan, mengalokasikan F. Hasil dan Pembahasan Peranan Bahasa Inggris untuk Tujuan Bisnis dan Pemasaran Tsui (1992) dan Rivers (2008) menyatakan bahwa dibutuhkannya kemampuan berbahasa Inggris untuk bisnis. Welch, Welch dan Piekkari (2005) menyampaikan bahwa berbicara Bahasa Inggris penting sebagai proses manajemen internasional. MacKenzie mengatakan pentingnya Bahasa Inggris seperti kehidupan professional. Swift (1991) melaporkan hasil pemeriksaannya terhadap peranan kemampuan berbahasa asing dalam pemasaran internasional yang menunjukkan pentingnya bahasa karena sebagai kunci untuk “mendekatkan” pasar. Sebuah penelitian dilakukan oleh Rogerson-Revell (2006) membahas tentang penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau lingua franca dalam pertemuan bisnis internasional. Rogerson-Revell merangkum temuan-temuan dari sebuah kuesioner yang mengeksplorasi penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar oleh organisasi bisnis Eropa tertentu yang diharapkan bahwa temuan terbatas tersebut akan membantu menjelaskan beberapa masalah bahasa yang mungkin hadir dalam konteks internasional seperti itu dan kemungkinan adanya kesulitan komunikasi dan frustrasi dihasilkan. Penelitian ini memberikan hasil positif mengungkap beberapa tantangan dan berdasarkan analisis menunjukkan sebuah kesadaran oleh banyak peserta untuk melakukan beberapa strategi untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dalam bisnis pariwisata, penggunaan Bahasa Inggris merupakan keunggulan seperti yang dinyatakan oleh Korstanje (2010). Selain itu berbahasa Inggris yang lancar tampaknya diharuskan bagi yang terjun di bisnis pariwisata seperti yang dilakukan Simpson (2011) yang melakukan penelitian kelancaran berbahasa Inggris di kelas Bahasa Inggris Pariwisata. Al Khatib (2005) melaporkan penggunaan Bahasa Inggris untuk staf pariwisata dan bank dan menyelidiki kebutuhan komunikasi di tempat kerja dan mendapati pentingnya Bahasa Inggris untuk komunikasi. Pachanat (2012) Beberapa peneliti juga menuliskan beberapa penelitiannya. Peranan Penggunaan Bahasa Inggris yang Benar untuk Tujuan Bisnis dan Pemasaran Berdasar Brieger (1997) dalam Bahasa Inggris untuk bisnis, pengetahuan Bahasa Inggris yang diperlukan adalah keakuratan terhadap penggunaan tata bahasa dan pengucapan yang mencakup keakuratan penggunaan bahasa dalam bidang keuangan, pemasaran, perbankan, hokum dan lain-lain. Dan keahlian komunikasi yang ditekankan pada kelancaran saat berdiskusi dan bersosialisasi yang efektif saat presentasi, pertemuan-pertemuan, bertelepon, bernegosiasi, dan menulis. Sumber: Brieger (1997) Sebuah penelitian oleh Zhang (2007) di kelas bisnis Bahasa Inggris di Cina untuk desain kurikulum menggambarkan adanya evolusi dari literature Bahasa Inggris dengan kebutuhan kelas bisnis saat ini sehingga desain kurikulum yang ditawarkan berdasar hasil penelitian ini adalah desain kurikulum tripartit untuk kelas bisnis ini dengan tujuan lebih pada mengajarkan keahlian berbisnis daripada hanya mengajarkan kemampuan berbahasa. Dalam proses memasarkan produk banyak cara digunakan agar konsumen tertarik, dalam hal ini penyampaian dalam Bahasa Inggris tidak harus selalu dalam tata bahasa yang benar atau bisa juga tidak berstandar seperti penelitian yang dilakukan oleh Mangseth (2010) tentang penggunaan lirik Bahasa Inggris untuk musik yang terlaris terjual di Swedia didapati temuan bahwa ada tanda-tanda penggunaan linguistic yang tidak berstandar. Pengaruh Bahasa Inggris sebagai Salah Satu Alat Komunikasi terhadap Tujuan Bisnis dan Pemasaran Sebuah penelitian oleh Zhang (2007) mengulas tentang praktik-praktik dalam pengajaran Bahasa Inggris Bisnis lebih dari 50 tahun yang lalu dan dua perspektif Bahasa Inggris bisnis yang memberikan pengaruh dalam mengkonsep sebuah pendekatan baru kurikulum desain. Hasil dari ulasan menunjukkan bahwa telah terjadi evolusi dari praktik yang dipandu oleh intuisi ke pengajaran berbasis konten, dan lebih banyak lagi kepada praktik berbasis penelitian. Dua perspektif yaitu English for Specific Purposes (ESP) dan studi wacana bisnis, keduanya menyumbangkan wawasan ke dalam Bahasa Inggris Bisnis. G. Kesimpulan Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran diperlukan dan berperan penting di perusahaan sebagai salah satu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi seperti ditunjukkan oleh beberapa penelitian terhadap penggunaan Bahasa Inggris untuk bisnis dan pemasaran. Berdasarkan beberapa penelitian, penggunaan Bahasa Inggris yang paling banyak adalah di bidang bisnis pariwisata dan perhotelan. Pembelajaran Bahasa Inggris untuk tujuan bisnis dan pemasaran masuk ke dalam kelompok English for Specific Purposes (ESP). H. Daftar Pustaka Al-Khatib, Mahmoud. English in the workplace: An analysis of the communication needs of tourism and banking personnel. Asian EFL Journal, 2005, 7.2: 174-194. Bai, Hong & Bai Xiai. Literal and Free Translation of Chinese-English Brand Names. Airity Library. 2007. Brieger, Nick. Teaching Business English. York: York Associates Publications, 1997. Bloch, Brian; Starks, Donna. The many faces of English: intra-language variation and its implications for international business. Corporate Communications: An International Journal, 1999, 4.2: 80-88. Bryson, Bill. Mother tongue: the story of the English language. Penguin Books, 2009. Conrad, Susan; Mauranen, Anna. The corpus of English as lingua franca in academic settings. TESOL quarterly, 2003, 37.3: 513-527. Crystal, David. The Cambridge Encyclopedia of English. Cambridge university press, 1995. Crystal, David. A global language. In: English in the World. Routledge, 2013. p. 163-208. De Mooij, Marieke K.; Keegan, Warren J. Advertising worldwide. 1994. Dharmesta, Basu Swastha. Manajemen pemasaran. 2014. Ellis, Mark; Johnson, Christine. Teaching business english. Oxford, 1994. Frey-Ridgway, Susan. The cultural dimension of international business. Collection building, 1997, 16.1: 12-23. Ghany, Sayed Younis Abdel; Latif, Muhammad M. Abdel. English language preparation of tourism and hospitality undergraduates in Egypt: Does it meet their future workplace requirements?. Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education, 2012, 11.2: 93-100. Hiebing, Roman, and Scott Cooper. The sucsuccessful marketing plan: A disciplined and comprehensive approach. McGraw-Hill Professional, 2003. Hsu, Yu-Lun. Facebook as international eMarketing strategy of Taiwan hotels. International Journal of Hospitality Management, 2012, 31.3: 972-980. Jones, Leo; Alexander, Richard. New International Business English Updated Edition Teacher's Book: Communication Skills in English for Business Purposes. Cambridge university press, 2000. Kankaanrata, Anne; Louhiala-Salminen, Leena. “English? –Oh, it’s just work!”: A study of BELF users’ perceptions. English for Specific Purposes, 2010, 29.3: 204-209. Kartiningsih, Eka Diah. Panduan Penyusunan Studi Literatur. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto. 2015. Kong, Haiyan; Cheung, Catherine. Hotel development in China: a review of the English language literature. International Journal of Contemporary Hospitality Management, 2009, 21.3: 341-355. Korstanje, Maximiliano E. Supremacy of English in tourism research. Anatolia, 2010, 21.2: 383- 387. Kotler, Philip; Armstrong, Gary. Prinsip-prinsip pemasaran. Jilid 1, 2008. Lemana, Rosa & Juwardi. Pengaruh Kelengkapan Produk dan Penetapan Harga terhadap Keputusan Pembelian Konsumen. Jurnal Pemasaran Kompetitif. Vol. 1 N0. 1. 2017. Li, Hui-qin; Wang, Lin. Studies on the Methods and Problems in Tourism English Teaching [J]. Journal of Hebei Polytechnic University (Social Science Edition), 2006, 2: 060. Mackenzie, Ian. English for Business Studies Student's Book: A Course for Business Studies and Economics Students. Cambridge University Press, 2010. Mangseth, Henrik. Non-Standard English Features in the Song Lyrics of Best Selling Music in Sweden. 2010. Min, Yang; Aimei, Ji. A Contrastive Analysis of English and Chinese Tourism Texts [J]. Foreign Languages and Their Teaching, 2003, 11: 007. Natadjaja, Listia. Pengaruh komunikasi visual antar budaya terhadap pemasaran produk pada pasar ekspor ditinjau dari warna dan ilustrasi desain kemasan. Nirmana, 2004, 4.2. Nickerson, Catherine. English as a lingua franca in international business contexts. 2005. Nikolaenko, E. B. Business English. Tomsk Polytechnic University Publishing House, 2008. Neeley, T. Global English Speaks English. Harvard Business Review 90, no. 5 (May 2012): 116–124. 2012. Ojanperä, Miina. Effects of Using English in Business Communication. 2014. Piller, Ingrid. 10. advertising as a site of language contact. Annual review of applied linguistics, 2003, 23: 170-183. Planken, Brigitte; Van Meurs, Frank; Radlinska, Ania. The effects of the use of English in Polish product advertisements: Implications for English for business purposes. English for Specific Purposes, 2010, 29.4: 225-242. Rivers, Damian John. English as an international business language (EIBL): The need for an increase in theoretical and practical research focusing on written business communications across cultural boundaries in relation to multinational corporate language selection. The Asian ESP Journal, 2008, 4.2: 6-22. Rogerson-Revell, Pamela. Using English for international business: A European case study. English for specific purposes, 2007, 26.1: 103-120. Seidlhofer, Barbara. English as a lingua franca. ELT journal, 2005, 59.4: 339-341. Simpson, Jantima. Integrating project-based learning in an English language tourism classroom in a Thai university. 2011. Srevens, Peter. What Is' Standard English'?. RELC Journal, 1981, 12.2: 1-9. Swift, Jonathan S. Foreign language ability and international marketing. European Journal of Marketing, 1991, 25.12: 36-49. Todorova, Mariyana. ISSN 2076-586X. Вісник Черкаського університету. № 24 (317) .2014. Tsui, Chia-Jung. English Business Communication Skills Training Needs of Non-Native English- Speaking Managers: A Case in Taiwan. Bulletin of the Association for Business Communication, 1992, 55.1: 40-41. Welch, Denice E.; Welch, Lawrence S.; Marschan-Piekkari, Rebecca. The persistent impact of language on global operations. Prometheus, 2001, 19.3: 193-209. Williams, Jasmine EM; Chaston, Ian. Links between the linguistic ability and international experience of export managers and their export marketing intelligence behaviour. International Small Business Journal, 2004, 22.5: 463-486. Wirthwein, Chris. Brand Buster 7 Common Mistakes Marketers Make. Paramount Market Publishing, Inc: NY. 2008. Zhang, Zuocheng. Towards an integrated approach to teaching Business English: A Chinese experience. English for specific purposes, 2007, 26.4: 399-410. https://kbbi.web.id/bisnis

Kamis, 03 Oktober 2019

Dimensi informal tanggung jawab sosial

Dimensi Informal Tanggung Jawab Sosial Kelompok 7 Konoha Muhammad Ikbalul Kirom 01218001 Reza Anggara 01218049 Rio Ariyanto 01218175 DIMENSI INFORMAL TANGGUNG JAWAB SOSIAL Penggunaan istilah Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau atau Corporate Social Responsibility (CSR) akhir-akhir ini semakin populer dengan semakin meningkatnya praktek tanggung jawab sosial perusaan, dan diskusi-diskusi global, regional dan nasional tentang CSR. Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin apabila, perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar, di berbagai tempat dan waktu muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidupnya. Dan pada akhirnya keberlanjutan dan kelestarian bumi juga akan lebih terjamin. Perusahaan memiliki tanggung jawab sosial ketika menghasilkan produk dan menjual produknya. Konsekuensinya praktik produksi yang bertanggung jawab seperti produksi yang menjamin keselamatan pelanggan, dan memilki peringatan yang semestinya untuk mencegah efek samping negative. Sedangkan praktik penjualan yang bertanggung jawab seperti pedoman harga, periklanan yang beretika dan survey kepuasan pelanggan. Konteks informal Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas. Namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. Tanggung jawab informal berarti, melaksanakan tanggung jawab diluar hal yang bersangkutan dengan aspek dan tindakan kerja. Salah satunya adalah meningkatkan rasa peka terhadap kepedulian sesame karyawan. Bahkan, hal ini juga sangat diwajibkanuntuk manager/HRD. Tujuannya adalah meningkatkan elektabilitas dan stabilitas karyawan dalam bekerja agar lebih giat dan memiliki rasa peduli terhadap perusahaan. Secara tidak langsung, HRD/Manager berperan sebagai wadah atau penampung tempat aspirasi dan musyawarah. Tidak hanya soal pekerjaan, bisa juga tentang keluarga, pendidikan, bahkan kebiasaan serta hobi karyawan. Adapun cara untuk memberikan rasa kepercayaan diri agar menjadi “wadah” untuk karyawan adalah dengan melakukan pendekatan Terdapat 3 pendekatan dalam pembentukan tanggung jawab sosial : 1 Pendekatan moral yaitu tindakan yang didasarkan prinsip kesatuan. 2 Pendekatan kepentingan bersamayaitu bahwa kebijakan moral harus didasarkan pada standar. 3 Kebijakan bermanfaat adalah tanggung jawab sosialyang didasarkan pada nilai apa yang dilakukan perusahaan menghasilkan manft besar bagi pihak berkepentingan secara adil Pandangan ini sekaligus juga menyiratkan bahwa kalau upaya perusahaan motifnya bukan hanya ekonomi. Misalnya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Sedangkan, kesejahteraan mampu menjadi topik permasalahan dalam tanggung jawab informal yang dilakukan diluar jam kerja, ruang lingkup kerja, dan suasana kerja. Misalnya adalah ketika jam operasional perusahaan sudah berakhir, biasanya para pekerja tidak langsung pulang. Terkadang mereka berkumpul atau istilah lainnya adalah “cangkruk/ngopi” dan dari sinilah pentingnya peranan tanggung jawab sosial informal diperlukan. Musyawarah dan sharing tentang kesejahteraan sosial serta peduli terhadap sesama pekerja/karyawan dibicarakan. Begitu juga pentingnya kehadiran Manager/HRD untuk bercengkrama membangun rasa kekeluargaan yang mampu menghadirkan rasa tanggung jawab sosial informal. Secara tidak langsung, mereka para karyawan akan merasa lebih dihargai ketika Manager/HRD tidak membatasi jarak antara mereka yang nyatanya nilai kelas mereka berbeda. Mereka juga merasa bahwa didalam kantor “kita beda jabatan” diluar kantor “kita tetap sama”. Jadi aspek atau forum yang dibahas tidak selalu tentang pekerjaan namun banyak hal lain yang mampu membuat rasa kekeluargaan itu muncul. Bahkan dengan itu semua muncul sisi positif yaitu ra